Kutu Siapa bilang kutu tidak berbahaya? Yup, kutu merupakan salah satu serangga yang memiliki gigitan mematikan. Gigitan kutu kaki hitam dipercaya dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang ditularkan oleh kutu hitam ini dikenal sebagai penyakit Lyme. Seseorang yang terkena infeksi Lyme akan mengalami gejala demam, sakit kepala, dan Seranggaskala berukuran kecil dan hidup di bagian batang dan sendi daun. 4. Tomat. Tomat merupakan tanaman yang rentan terhadap hama dan penyakit, terutama ketika musim penghujan. Beberapa hama tanaman tomat adalah golongan kutu, lalat, ulat dan thrips. Kutu kebul (Bemisicia tabacci) adalah hama yang menyerang tomat dengan menghisap cairan Hasilnyadari berbagai warna tersebut ternyata tetap warna kuning -lah yang paling efektif dalam menarik hama trips dan hama kutu-kutuan datang. Tak hanya itu, perangkap warna kuning juga effektif untuk lalat buah. Termasuk saya sendiri pernah punya pengalaman dulu memakai beberapa warna yaitu putih, biru, merah, hijau dan kuning. Kutuloncat merupakan serangga penular atau vector penyakit CVPD. Jika di kebun jeruk tidak ada pohon yang terinfeksi penyakit CVPD karena ditanami dengan bibit jeruk bebas penyakit, maka kehadiran serangga penular ini hanya merupakan hama biasa yang merusak tunas muda. Baca juga: Cara Pemupukan dan Pengendalian Hama Tanaman Sayuran di Pekarangan. Hamathrips (kutu/serangga berwarna putih) merupakan carrier atau pembawa virus yang menyebabkan penyakit keriting daun pada tanaman cabai. apabila tanaman telah terserang virus yang dibawa oleh hama thrips, penanggulangannya akan sulit karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasinya. salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut batang dan memusnahkannya dengan cara dibakar Uca2v1. Hama thrips merupakan salah satu jenis hama tanaman yang seringkali merugikan petani. Pengertian hama sendiri adalah organisme yang mengganggu pertumbuhan dan juga perkembangan dari tanaman. Jika tidak segera diatasi, entah dengan cara yang alami ataupun kimia, hama tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya gagal panen bagi Itu Hama ThripsJenis hama yang satu ini adalah hama yang biasa menyerang tanaman cabe milik petani. Jika tidak dicegah perkembangannya, hama ini bisa menyebabkan daun tanaman menjadi keriting. Jika dibiarkan, cabai bisa saja tidak dapat dipanen, sehingga petani juga akan cabai yang terserang thrips biasanya akan muncul bercak putih atau berwarna keperakan di bagian permukaan bawah daun cabai. Sedangkan pada jenis serangan yang berat, daun bisa mengeriting hingga berwarna coklat. Pada tahap ini tanaman bisa saja menjadi kerdil hingga tidak menghasilkan hama yang satu ini menghisap cairan yang ada pada tanaman di bagian daun muda dan juga pucuk tanaman. Akibatnya daun menjadi keriting karena air liur dari hama yang merusak sel tanaman. Dengan demikian, perkembangan daun secara normal juga akan Ciri-ciri dari Hama Thrips?Bagaimana cara membedakan antara thrips dengan jenis hama yang lain? Dalam hal ini, anda harus tahu dulu ciri-ciri yang dimiliki oleh memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan jenis hama yang lain. Untuk jenis thrips yang dewasa, hama ini memiliki ukuran sekitar 1 mm dengan warna kuning pucat dan cenderung kecoklatan. Jika thrips yang jantan tidak memiliki sayap, maka berbeda dengan hama yang betina karena memiliki sepasang ini berkembang biak dengan menghasilkan telur. Telur dari hama berbentuk oval dan diletakkan di permukaan tanaman atau dengan ditusukkan ke dalam jaringan. Perkembangbiakan dari thrips seringkali terbantu oleh adanya hembusan angin dan kemampuan dari hama dengan berpindah Ampuh Membasmi Hama ThripsUntuk mengendalikan dan membasmi jenis hama yang satu ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Cara sendiri bisa disesuaikan dengan tingkat keparahan dari serangan. Untuk lebih jelasnya mengenai cara membasmi thrips, anda bisa simak beberapa cara di bawah ini Menggunakan insektisida => Cara ini bisa dilakukan dengan melakukan penyemprotan insektisida. Gunakan sesuai dengan takaran dan juga langkah penyemprotan yang tepat. Hindari dosis yang berlebihan karena justru akan meningkatkan sifat resistensi hama terhadap bahan aktif. Karena jika sudah demikian, petani akan sulit mengatasi hama iniPengendalian mekanik => Caranya adalah dengan memotong bagian daun yang terserang hama. Namun, jika yang diserang sudah mencapai seluruh tanaman, maka tanaman bisa dicabut untuk kemudian dibakarMemanfaatkan musuh alami => Ada beberapa musuh alami yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan thrips. Ada tungau, kepik anthocoridae, kumbang cocconellidae, dan lain sebagainyaSelain dengan melakukan tindakan pembasmian, ada baiknya untuk mencegah datangnya thrips sejak awal. Salah satu caranya adalah dengan menghindari bercocok tanam jenis tanaman favorit hama thrips di puncak musim kemarau. Apalagi, jenis hama yang satu ini biasanya meningkat secara alami di musim anda berminat menjalankan jenis investasi di bidang pertanian ataupun perkebunan? Segera hubungi solusi investasi dan agro bisnis dari solusiagro yang siap membantu potensi kesuksesan investasi yang anda lakukan. Tersedia beberapa pilihan kontak yang bisa anda sesuaikan dengan kebutuhan. Penyakit keriting daun pada tanaman cabai telah menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi petani, karena tanaman cabai yang terserang virus akan merusak klorofil daun dan berakibat pada terganggunya pertumbuhan dan menurunnya produksi bahkan tanaman akan mati secara perlahan. Apalagi dengan pemakaian pupuk organik Nasa dan pestisida organik Nasa yang mana sudah banyak para petani cabai yang membuktikan bahwa mampu menahan penyebaran hama thrips pada tanaman cabai. Penyakit keriting daun pada tanaman cabai diawali oleh hama thrips yaitu kutu / serangga berwarna putih. panjang tubuh lebih kurang 1 mm. serangga ini tergolong kecil namun dapat dilihat dengan mata telanjang. hama ini pemangsa segala jenis tanaman. Kutu menyerang tanaman muda secara bergerombol, daun yang terserang akan mengerut dan melingkar, cairan manis yang dikeluarkan kutut membuat semut dan embun jelaga berdatangan. Embun jelaga warna hitam sering menandakan serangan kutu thrips sedeng berlansung. Pengendalian kutu thrips dapat dilakukan dengan furadan 3G dengan dosis 60 – 90 kg / ha atau sekitar 2 sendok makan / 10 m bujur sangkar area. Gejala serangan hama Thrips / kutu putih Adanya strip – strips pada daun dan berwarna keperakan seperti noda akibat dimakan kutu thrips, kemudian warna tersebut berubah menjadi coklat muda. Adanya kutu thrips pada bagian bawah daun dan mudah terlihat disaat pagi hari atau sebelum terik hari, kutu thrips pada saat terik hari akan sembunyi disela – sela daun sehingga kurang terlihat. Hama kutu thrips merupakan sebagai carrier atau pembawa virus yang menyebabkan penyakit keriting daun pada tanaman cabai, apabila tanaman telah terserang virus yang dibawa oleh kutu thrips maka penanggulangan akan sulit karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasi, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut batang dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Gejala serangan virus yang di bawa kutu thrips Bercak kuning diatas permukaan daun, perlahan meluas hingga seluruh permukaan daun menguning. Bentuk daun menjadi lebih kecil dari ukuran normal. Daun melengkung dan kaku. Daun terlihat keriting. Setelah kuning daun sebagian besar rontok. Dibawah permukaan daun terdapat hama / kutu berwarna putih. Daun tanaman cabai menguning,keriting dan kerdil akibat penyakit keriting daun. Pengendalian secara kultur teknis Dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang dan pencegahan menggunakan Produk Nasa Penggunakan Produk Nasa yang berupa Natural Glio yang telah di fermentasikan dengan pupuk kandang dari sebelum tanam. Olah tanah yang baik dari tanaman sebelum tanam dengan menggunakan Produk Organik Nasa + pupuk kimia yang biasa di pakai sampai tanaman selesai panen. Adapun pupuk Organik Nasa yang di pakai adalah POC NASA + SUPERNASA + HORMONIK. Pemakaian Produk Nasa yang berupa Power Nutrition setelah panen cabai kedua. Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Pestona,pentana dan Aero-810 dari awal tanam sampai interval 7 – 10 hari sekali. Apabila tanaman cabai sudah terkena serangan Thirps yang cukup parah bisa menggunakan pestisida kimia. Lentil Hitam & Kacang Hijau Gejala Larva dan serangga dewasa memakan jaringan tanaman dan menghasilkan bercak-bercak perak kecil di sisi atas daun, efek yang dikenal sebagai 'silvering'. Bercak yang sama dapat muncul pada kelopak di mana pigmen telah hilang. Di bagian bawah daun, thrips dan larvanya tinggal bersama dalam kelompok di samping bintik-bintik hitam kotoran mereka. Daun tanaman yang terinfeksi berwarna kuning, layu, cacat atau mengerut. Makan selama perkembangan tunas atau bunga dapat kemudian menghasilkan bunga atau buah yang rusak, terhambat atau cacat, dan kehilangan hasil panen. Dapat juga ditemukan diApa penyebabnya? Thrips adalah serangga sepanjang 1-2 mm berwarna kuning, hitam atau berbelang. Beberapa varietas memiliki dua pasang sayap, yang lain tidak memiliki sayap sama sekali. Mereka berhibernasi dalam residu tanaman atau di tanah atau di tanaman inang alternatif. Mereka juga vektor untuk berbagai penyakit virus. Kondisi cuaca kering dan hangat mendukung pertumbuhan populasi. Kelembapan menguranginya. Pengendalian hayati Beberapa langkah pengendalian hayati telah dikembangkan untuk thrips tertentu. Tungau predator yang memakan larva atau kepompong thrips tersedia secara komersial. Terhadap varietas yang menyerang daun dan bukan bunga, cobalah minyak Mimba atau piretrin alami, terutama pada bagian bawah daun. Aplikasi spinosad umumnya lebih efektif terhadap thrips daripada bahan kimia atau formulasi biologis lainnya. Aplikasi ini bertahan selama 1 minggu atau lebih dan bergerak jarak pendek ke jaringan yang disemprotkan. Namun itu dapat menjadi racun bagi musuh alami tertentu misalnya, Tungau predator, larva lalat syrphid dan lebah. Jangan mengaplikasikan spinosad pada tanaman yang sedang berbunga. Dalam kasus serangan thrips pada bunga, beberapa tungau predator atau larva lacewing hijau dapat digunakan. Kombinasi ekstrak bawang putih dengan beberapa insektisida juga tampaknya bekerja dengan baik. Penggunaan mulsa UV yang sangat reflektif mulsa metal telah direkomendasikan. Pengendalian kimiawi Selalu pertimbangkan pendekatan terpadu dengan tindakan pencegahan bersama dengan perlakuan hayati jika tersedia. Karena tingginya tingkat reproduksi dan siklus hidup mereka, thrips telah mengembangkan resistensi terhadap berbagai kelas pestisida. Insektisida kontak yang efektif termasuk fipronil 2 ml, imidacloprid 0,25 ml atau acetamiprid 0,2 g, yang dalam banyak produk dikombinasikan dengan piperonyl butoxide untuk meningkatkan efeknya. Tindakan Pencegahan Tanam varietas yang tahan hama yang tidak memerlukan aplikasi insektisida untuk thrips. Tambahkan mulsa plastik atau organik di sepanjang baris tanaman untuk mengurangi insiden dan perkembangan thrips. Hindari menanam tanaman yang rentan di sebelah area bergulma. Gunakan transplantasi bebas virus dan thrips dari rumah kaca yang mengelola thrips dan periksa transplantasi. Pantau lahan secara teratur untuk menilai kejadian penyakit atau hama dan tentukan tingkat keparahannya untuk merencanakan tindakan yang sesuai. Gunakan perangkap lengket di area yang luas untuk penangkapan massal. Hindari penanaman di dekat tanaman inang alternatif atau tanaman yang terinfeksi virus. Pangkas dengan memotong tanaman tepat di atas titik percabangan alih-alih memotong ujung batang. Rumah kaca bisa disterilkan dengan uap di sela-sela penanaman. Singkirkan dan hancurkan tanaman dan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi. Irigasi tanaman dengan baik, dan hindari penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan. Oleh I WAYAN SWASTIKA,SP,M,Si POPT MADYA KOTA DENPASAR Latar Belakang Serangga Paracoccus marginatus merupakan hama baru yang menyerang beberapa tanaman hortikultura di Bali. Hama ini diduga berasal dari Benua Amerika yang diperkirakan migrasi ke Indonesia pada Tahun 2008. Akibat serangan serangga ini beberapa jenis tanaman buah-buahan, sayuran dan umbi-umbian mengalami kerusakkan yang cukup berat bahkan sampai intensitas diatas 90% atau disebut puso. Populasi serangga ini umumnya meningkat bila didukung oleh faktor lingkungan seperti iklim kemarau yang sedikit curah hujanya. Untuk antisipasi keberadaan hama ini perlu dilakukan upaya yang serius dengan melibatkan semua komponen baik petugas POPT maupun masyarakat. Gambar Daun terserang dan serangga kutu putih Paracoccs marginatus Tanaman hias juga terserang hama kutu putih, dan parahnya hama ini bisa terbang serta pindah ke tanaman lainnya dengan cepat, ditambah dengan kemampuannya bertelur, yang cukup tinggi. Untuk itu ekobiologi kutu putih P. marginatus ini sangat menarik dipelajari mengingat hama ini termasuk serangga exotik, kosmopolit serta polipag. Tujuan Dengan mengetahui studi biologi P. marginatus diharapkan mampu melakukan antisipasi dengan meningkatkan kewaspadaan serangan terhadap komoditi hortikultura serta ditemukan konsep teknologi pengendalian yang efektif efisisen Rumusan masalah Apakah hama kutu putih akan meluas dan merusak tanaman hortikultura di Kota Denpasar dan mampukah dikendalikan dengan cara yang efektif degan tidak merusak kelestarian lingkungan ? Metode Metodelogi yang digunakan dalam pengumpulan data pada penulisan ini yaitu dengan tinjauan pustaka dan hasil pengamatan lapangan sesuai dengan model pengamatan tanaman hortikultura yang dituangkan dalam Buku Pedoman Pangamatan OPT Hortikultura Ditlin, 2008 Tinjauan Pustaka Kutu mengacu pada berbagai artropoda berukuran kecil hingga sangat kecil. Nama ini dipakai untuk sejumlah krustasea air kecil seperti kutu air, serangga seperti kutu kepala dan kutu daun, serta — secara salah kaprah — berbagai anggota Acarina tungau dan caplak, yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga. Semua disebut "kutu" karena ukurannya yang kecil. Dengan demikian, pengertian awam istilah ini tidak memiliki arti taksonomi. Dalam arti lebih sempit, kutu adalah serangga yang tidak bersayap dan berukuran kecil, yang dalam bahasa Inggris mencakup flea kutu yang melompat, ordo Siphonaptera dan louse kutu yang lebih suka merayap, ordo Phtiraptera yangn semuanya adalah parasit. Dalam bahasa Indonesia keduanya tidak dibedakan, malah mencakup juga sebagian dari kerabat wereng ordo Hemiptera dan beberapa anggota ordo Coleoptera. Untuk menjelaskan, diberi keterangan di belakang kata "kutu". Para biologiwan berusaha mendayagunakan kata tuma bagi kelompok Phtiraptera, walaupun menyadari terdapat kesulitan dalam penerapannya.Ditlin, 2011 Kutu mengacu pada berbagai artropoda berukuran kecil hingga sangat kecil. Nama ini dipakai untuk sejumlah krustasea air kecil seperti kutu air, serangga seperti kutu kepala dan kutu daun, serta — secara salah kaprah — berbagai anggota Acarina tungau dan caplak, yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga. Semua disebut "kutu" karena ukurannya yang kecil. Dengan demikian, pengertian awam istilah ini tidak memiliki arti taksonomi. Dalam arti lebih sempit, kutu adalah serangga yang tidak bersayap dan berukuran kecil, yang dalam bahasa Inggris mencakup flea kutu yang melompat, ordo Siphonaptera dan louse kutu yang lebih suka merayap, kebanyakan ordo Phtiraptera yang semuanya adalah parasit. Dalam bahasa Indonesia keduanya tidak dibedakan, malah mencakup juga sebagian dari kerabat wereng ordo Hemiptera dan beberapa anggota ordo Coleoptera. Untuk menjelaskan, diberi keterangan di belakang kata "kutu". Para biologiwan berusaha mendayagunakan kata tuma bagi kelompok Phtiraptera, walaupun menyadari terdapat kesulitan dalam penerapannya. Diskripsi Hama kutu putih atau bahasa kerennya mealy bug atau Paracoccus marginatus merupakan salah satu hama yang kerap menyerang tanaman, baik tanaman sayuran maupun tanaman hias, Hama jenis serangga ini mengeluarkan sejenis zat putih yang berlilin, berkapas putih yang menutupi keseluruhan badan lembut yang berwarna merah muda, menyebabkan ia kelihatan seperti debu putih. Kutu putih dapat ditemukan pada bagian tanaman yang menjadi pertemuan antara daun dan batang buku-buku batang, atau batang dan buah kebetulan pohon jeruk juga terkena hama ini, dan sang kutu berdiam diri di sela sela buah dan batang, serta diatas dan atau dibawah daun muda. Sang kutu menyerang tanaman dengan cara menghisap sari dari tanaman, yang mengakibatkan tanaman menjadi layu, dan itu juga sebabnya daun muda tanaman hias semuanya mengkerut. Selain itu kutu putih ini juga mengeluarkan cairan manis seperti madu yang dapat mengundang semut, dan seperti pepatah ada gula ada semut, maka juga berlaku keadaan ada kutu putih ada pula semut, pada awalnya semut ini berfungsi sebagai predator alam sang kutu tapi ternyata bukan begitu adanya. Menurut beberapa sumber, hama kutu putih terjadi pertama kali di luar negeri pada 1998, tepatnya di Florida, Amerika Serikat. Hama ini bisa sampai ke Indonesia dengan perantara melalui tanaman hias impor seperti plumeria, hibiscus, acalypha yang dikenal luas sebagai tanaman inang hama kutu putih yang sama. Dengan kemampuannya menempel di baju, bisa jadi salah satu kemungkinan mengapa sang kutu bisa ada di Indonesia adalah melalu proses pertukaran baju dan atau kegiatan import barang bekas, bisa juga sang kutu menempel di baju pelancong dari luar negeri lalu melayang terbang saat sang turis singgah di Indonesia. Tentu saja ini masih harus dibuktikan lebih lanjut, dan karena tidak ada pihak yang berniat untuk mengadakan penelitian mengenai ini, maka sosialisasi kepada masyarakat tani. Dengan kemampuannya dalam berkembangbiak, disebutkan bahwa kutu putih dewasa betina mampu bertelur hingga 500 butir yang diletakkan dalam satu kantung telur terbuat dari lilin dan berbiak 11-12 generasi dalam kurun setahun, adalah menjadi sangat wajar bila kutu ini menjadi ancaman serius didalam dunia pertanaman. Saking seriusnya, sampai ada penelitian mengenai sang kutu seperti dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Urban Entomology, berikut ini tampilkan abstrak dari penelitian tersebut. SIKLUS HIDUP Betina Berada di urutan Hemiptera apa yang disebut "bug yang benar", kutu putih mengaburkan mengalami metamorfosa tidak lengkap; nympha muda mirip orang dewasa dalam bentuk tubuh, mengambil enam sampai sembilan minggu untuk matang, dan mempertahankan penggunaan semua enam kaki sepanjang kehidupan mereka. Tergantung pada suhu, kutu putih mengaburkan dapat menyelesaikan 2-3 generasi per tahun; betina akan meletakkan cengkeraman beberapa ratus telur jeruk di kantung kapas, dari mana peri akan menetas dan muncul setelah hari sekitar 5-10. Jika kondisi lingkungan terlalu dingin, nimfa muda akan tetap berada dalam kantung sampai kenaikan suhu. Abstrak kutu putih bertelur sepanjang tahun, dan selama musim dingin, di bawah kulit pohon dan tanaman merambat meskipun tidak ada dormansi benar. Populasi ini overwintering termasuk kutu putih individu dari semua tahap pembangunan, tetapi didominasi oleh telur dan instar pertama, kematian menahan musim dingin untuk peri muda adalah tinggi, tetapi beberapa individu biasanya yang tercepat untuk menetas akan bertahan dan memakan daun musim semi pertama . Kematian dalam generasi non-overwintering sangat menurun. Jantan dan kawin Kutu putih mengaburkan Male tidak memberi makan, dan memiliki umur manusia sangat pendek 2-3 hari; jantan akan berputar kepompong lama setelah menetas, di mana mereka mengembangkan sayap. Setelah muncul dari kepompong mereka, kutu putih mengaburkan jantan akan terbang menuju aroma feromon seks betina, mate sebanyak mungkin, kemudian mati. Mengingat umur pendek laki-laki, waktu dari emisi betina dari feromon seks adalah penting; perempuan akan memancarkan feromon hari dan malam sekitar waktu munculnya laki-laki terutama di musim semi, maka segera dihentikan setelah pembuahan. Mengaburkan kutu putih umumnya mate pada senja dan fajar. Feromon seks perempuan mengaburkan kutu putih memiliki sifat malang kadang-kadang menarik tawon parasit seperti Peregrina Tetracnemoidea, dan karena itu suatu kairomone. EKOLOGI Diet Abstrak kutu putih memakan floem pada pohon pepaya dan kayu-bertangkai tanaman, terutama pohon-pohon kamboja dan tanaman anggur. Beberapa individu vektor untuk patogen infeksius dan dapat menularkan dari tanaman ke tanaman sementara makan; selentingan kutu putih-leafroll terkait penyebaran virus tipe III GRLaV-3, khususnya, telah mendatangkan malapetaka di antara buah anggur di Selandia Baru, mengurangi hasil panen kebun anggur terinfeksi hingga 60%. Simbiosis Female honeydew kutu putih mengekskresikan, cairan, kental manis dibuat sebagai produk sampingan dari pencernaan koloni besar kutu putih bisa menghasilkan cukup melon meresap melalui kulit dan daun, meninggalkan mengkilap, patch lengket pada bagian luar tanaman. Beberapa semut telah mengembangkan suatu hubungan simbiotik dengan kutu putih jelas, merawat dan melindungi serangga dari musuh alami untuk meningkatkan produksi melon, di mana pakan semut. Hubungan ini mirip dengan salah satu bahwa beberapa semut dengan kutu daun. Sampar Jenis ini merupakan hama di Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, Selandia Baru, dan Iran, khususnya di kebun-kebun anggur dan kebun buah. Para kutu putih mengaburkan telah menyebabkan kerusakan terutama besar untuk kebun-kebun anggur di Pantai Tengah California, di mana ia merupakan spesies dikenali dan tidak memiliki predator alami. Banyak upaya telah dilakukan untuk mengendalikan populasi kutu putih jelas di rumah kaca komersial dan kebun-kebun anggur, menggunakan kedua pestisida sintetik dan parasit kutu putih diperkenalkan. Karena lapisan lilin yang kutu putih jelas dan kebiasaan mencari situs makan terlindung melindunginya dari pestisida berbasis air, pestisida organofosfat berbasis minyak di antara lebih beracun pestisida yang paling efektif dalam mengurangi kepadatan penduduk, meskipun pestisida tersebut dapat membahayakan tanaman jika diterapkan setelah yang pertama tunas. Meskipun demikian, beberapa tempat di Selandia Baru populasi kutu putih jelas telah mengembangkan ketahanan terhadap pestisida organofosfat. Karena racun yang tinggi dan regulasi ketat pestisida organofosfat, beberapa vintners California telah mengimpor parasit alami kutu putih jelas dari Chili, terutama Pseudaphycus flavidulus dan Leptomastix epona. Upaya tersebut sejauh ini hasil yang tak tentu, sedangkan kutu putih jelas mampu encapsulating dan membunuh telur epona L. dan dactylopii L., misalnya, rendering parasit yang tidak efektif. Di sisi lain, keberhasilan yang signifikan dalam mengurangi populasi kutu putih jelas telah menghasilkan dari mengisolasi mereka dari semut Simbion mereka. PENGENDALIAN Upaya pengendalian yang dilakukan terhadap serangga kutu putih P. marginatus mengingat kutu ini mempunyai karakteristik yang unik seperti bionomi yang perkembanganbiaknya partenegogenesis, mengeluarkan ekskresi seperti gula dan lapisan lilin pada bulu berupa tepung. Untuk itu pengendalian harus sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu. Keamanan terhadap lingkungan dan produksi juga harus menjadi perhatian mengingat tanaman terserang selain hortikultura juga tanaman hias yang biasanya sebagai tanaman peneduh di pinggir jalan. Hasil pengendalian yang efektif efisien sudah pernah dilakukan adalah 1. Penyemprotan dengan air yang dicampur detergen 10% menyebabkan populasi berkurang sampai 70% 2. Menggunakan pestisida nabati daun tembakau konsentrasi 20% ditambah degergen 5% efektif menurunkan populasi sampai 65% 3. Penggunaan insektisida sistemik dengan cara pengeboran batang sampai empulur kemiringan 45o mampu menekan populasi sampai 95% KESIMPULAN DAN SARAN Kutu putih berkembangbiak secara partenogenesis. Perkembangan nimfa kutu putih terdiri dari tiga instar sebelum menjadi imago. Lama perkembangan nimfa instar satu sekitar 11,45±0,29 hari pada mangga dan sekitar 12,95±0,33 hari pada pepaya. Lama perkembangan nimfa instar dua sekitar 9,85±0,29 hari pada mangga dan sekitar 11,05±0,34 hari padak pepaya. Sedangkan lama perkembangan nimfa instar tiga sekitar 10,80±0,31 hari pada mangga dan 11,55±0,20 hari pada pepaya. Total lama perkembangan hidup pradewasa pada daun mangga lebih cepat yaitu sekitar 32,100,33 hari dibandingkan pada pepaya sekitar 35,55  0,43 hari. Total lama hidup imago sekitar 20,40±0,74 hari pada mangga dan 20,20±0,57 hari pada pepaya. Mangga merupakan inang alternatif bagi hama kutu putih P. Marginatus. Untuk mencegah penyebaran dan perkembangan hama kutu putih di pertanaman, sanitasi lahan dari sisasisa mangga yang terserang kutu putih perlu diperhatikan sebelum dilakukan penanaman pepaya. Pengendalian yang paling efektif adalah berdasarkan konsep PHT dan selalu memperhatikan dampak pestisida terhadap pencemaran lingkungan hidup. Untuk itu disarankan agar petani dan petugas mampu merubah sikap pengandalian OPT anggrek secara benar sehingga produksi meningkat UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kantor Kementrian Riset dan Teknologi melalui program RUSNAS Pengembangan Buah-buah Unggulan Indonesia di Pusat Kajian Buah-buahan Tropika PKBT atas bantuan dana dan fasilitas dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih disampaikan kepada pimpinan laboratorium Sistematika Serangga Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Institut Pertanian Bogor, juga kepada Bu Dewi dan Bu Is yang membantu dalam terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA The papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink Hemiptera Pseudococcidae, is recorded from the Oriental Region for the first time, where it was found in Indonesia Java and India Tamil Nadu in 2008. Papaya mealybug is a polyphagous pest that damages many tropical crops. A native of Central America, it spread to the Caribbean region and South America in the 1990s; since then it has been accidentally introduced to some islands in the Pacific region. The distribution, host range and characteristics of the mealybug are summarized. Cecilia Bueno and E. Prado, 2004. Desenvolvimento de Dysmicoccus brevipes Cockerell HemipteraPseudococcidae emduas cultivars de abaxi. Cienc agrotec 28 5 1015-1020. CABI Centre for Agriculture and Bioscience International, 2003. Crop protection compendium. Wellingfort. Nosworthy Way. Wallingford. Oxfordshire. OX10 8DE. 7 Departemen Pertanian, sehat dengan produk hortikulturanusantara. Departemen Pertanian. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Jakarta 114 hal. Hama thrips kutu/serangga berwarna putih merupakan carrier atau pembawa virus yang menyebabkan penyakit keriting daun pada tanaman cabai. Apabila tanaman telah terserang virus yang dibawa oleh hama thrips, penanggulangannya akan sulit karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut tanaman terinfeksi tersebut dan memusnahkannya dengan cara dibakar. Pernyataan tersebut diperoleh berdasarkan …. A. hipotesis penelitian B. percobaan penelitian C. hukum dan landasan teori D. observasi dan pengumpulan informasi E. eksperimen untuk membuktikan hipotesis Jawaban D Pembahasan Pernyataan pada soal diperoleh dari observasi dan pengumpulan informasi. Masalah yang diketahui adalah adanya hama thrips yang dapat menyebabkan penyakit keriting daun tanaman cabai. Maka langkah selanjutnya, yaitu pengamatan dan pengumpulan informasi, dimana pada pengamatan diketahui tanaman cabai yang terserang virus dari hama thrips akan susah ditanggulangi karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasinya. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah D.

hama thrips kutu serangga berwarna putih merupakan carrier